Nama
: Muliadi
N.I.M :0331173041
FITK UIN Sumatera Utara
Kerajaan
Kerajaan Islam Di Indonesia
Agama
dan kebudayaan Islam masuk Indonesia melalui para pedagang yang berasal dari
Arab, Persia, dan Gujarat (India), dan Cina. Agama Islam berkembang dengan pesat
di tanah air. Hal ini dapat dilihat dengan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam.
Berikut ini beberapa contoh kerajaan Islam yang pernah berdiri di Indonesia.
1.
Kerajaan
Perlak.
Kerajaan
Islam yang pertama kali berdiri di Sumatra dan tanah air adalah Kerajaan Perlak
(Peureula). Kerajaan Perlak ini berdiri pada pertengahan abad IX dengan raja
pertamanya bernama Alauddin Syah. Perlak pada saat itu merupakan kota dagang
penyedia lada paling terkenal. Pada akhir abad XII Kerajaan Perlak akhirnya
mengalami kemunduran.
2.
Kerajaan
Samudera Pasai.
Kerajaan
Samudra Pasai yang merupakan kerajaan kembar. Kerajaan ini terletak di pesisir
timur laut Aceh Kabupaten Lhok Seumawe atau Aceh Utara kini. Kemunculannya
sebagai kerajaan Islam diperkirakan awal atau pertengahan abad ke-13 M,
pendiri dan raja pertama kerajaan ini adalah Malik al-Saleh, sebagai
hasil dari proses islamisasi daerah pantai yang pernah disinggahi
pedagang-pedagang muslim sejak abad ke-7, ke-8 M, dan seterusnya. Daerah yang
diperkirakan masyarakatnya sudah banyak yang memeluk agama Islam adalah Perlak,
sepeti yang kita ketahui berita dari Marco Polo yang singgah di daerah itu pada
tahun 1292. Bukti berdirinya kerajaan Samudra Pasai pada abad ke-13 M, itu
didukung dengan adanya nisan yang terbuat dari granit asal Samudra Pasai.,
kerajaan ini pernah didatangi seorang utusan dari Sultan Delhi di India bernama
Ibnu Batutah.
3.
Kerajaan
Aceh Darussalam.
Kerajaan
Aceh berdiri pada tahun 1514. Sultan Ibrahim atau Ali Mugayat Syah adalah raja
pertama kerajaan ini. Kerajaan Samudra Pasai berlangsung sampai tahun 1524 M.
Pada tahun 1521 M kerajaan ini ditaklukkan oleh Portugis yang mendudukinya
selama tiga tahun, kemudian tahun 1524 M dianekasi oleh raja Aceh, Ali
Mughayatsyah. Selanjutnya kerajaan Samudera Pasai di bawah pengaruh kesultanan
Aceh yang berpusat di Bandar Aceh Darussalam.
4. Kerajaan Demak.
Perkembangan Islam di Jawa bersamaan waktunya dengan melemahnya posisi Raja
Majapahit. Hal itu memberi peluang kepada pengusaha-pengusaha islam di pesisir
untuk membangun pusat kekuasaan yang independen. Dibawah pimpinan Sunan Ampel
Denta, wali songo bersepakat mengangkat Raaden Patah menjadi raja pertama
kerajaan Demak, kerajaan Islam pertama di Jawa, dengan gelar Senopati Jimbun
Ngabdurahman Panembahan Palembang Sayidina Panatagama. Sebelumnya Demak yang
masih bernama Bintoro merupakan daerah vasal Majapahit yang diberikan Raja
Majapahit kepada Radeen Patah.
5.
Kerajaan
Pajang.
Pajang
adalah pelanjut atau sebagai pewaris kerajaan Demak. Sultan pertama kerajaan
ini adalah Jaka Tingkir yang berasal dari Pengging, di Lereng Gunung Merapi.
Oleh raja Demak ketiga Sultan Trenggono, Jaka Tingkir diangkat menjadi penguasa
di Pajang, setelah dikawinkan dengan anak perempuannya. Setelah Raja Demak
meniggal dunia Jaka Tingkir memerintahkan agar semua benda pusaka Demak
dipindahkan ke Pajang. Setelah menjadi raja yang paling berpengaruh di Pulau
Jawa ia bergelar Sultan Adiwijaya. Sultan Adiwijaya menghadiakan kota gede
Yogyakarta dan mengangkat Ki Ageng Pemanahan menjadi adipati di situ.
6.
Kerajaan
Mataram Islam.
Kerajaan
Mataram didirikan oleh Sutawijaya yang memiliki gelar Panembahan Senopati Ing
Alaga Sayidin Panatagama. Setelah naik tahta kerajaan pada tahun 1586,
Sutawijaya bergelar Panembahan Senapati Ing Alaga Sayidin Panatagama. Kerajaan
Mataram mencapai masa kejayaan pada masa kekuasaan Sultan Agung Hanyakrakusuma
yang bergelar Sultan Agung Senopati Ing Alaga Ngabdurrahman Khalifatullah. Saat
itu kekuasaan Mataram sangat luas dan seluruhnya berhasil disatukan.
Kerajaan yang dipimpin oleh Sutajaya ini adalah kerajaan kedua yang kini
bercorak Islam, sementara yang dulu bercorak Hindu. Namun letak Mataram Islam
berada di bekas wilayah Kerajaan Mataram Hindu. Sementara itu, Pajang yang dulu
menjadi pusat kerajaan, msuk menjadi wilayah kekuasaan Mataram Islam, dan
Pangeran Benowo sebagai adipati Pajang.
7.
Kerajaan
Cirebon.
Kesultanan
Cirebon merupakan kerajaan Islam pertama di daerah Jawa Barat. Kerajaan ini
didirikan oleh Sunan Gunung Jati. Ia diperkirakan lahir pada tahun 1448 M dan
wafat pada tahun 1568 M, dalam usia 120 tahun. Kedudukannya sebagai Wali Songo
mendapatkan penghormatan dari raja-raja di Jawa, seperti Demak dan Pajang.
Setelah Cirebon resmi berdiri sebuah Kerajaan Islam yang merdeka dari kekuasaan
Kerajaan Pajajaran, Sunan Gunung Jati berusaha meruntuhkan Kerajaan Pajajaran
yang belum menganut ajaran Islam.
8.
Kerajaan
Banten.
Sunda
Kelapa adalah pelabuhan yang pentig di Muara Sungai Ciliwung. Kedudukannya
lebih penting dari pada dua kota pelabuhan Pajajaran lainnya, yakni Banten dan
Cirebon. Setelah Fatahillah yang juga menantu Sunan Gunung Jati berhasil
menaklukkan Portugis di Sunda Kelapa, Banten dikembangkan sebagai pusat
perdagangan sekaligus tempat penyiaran agama. Setelah Sunan Gunung Jati menaklukan
Banten pada tahun 1525 M. Ia menyerahkan kekuasaan kepada putranya yang bernama
Sultan Hasanuddin.
9.
Kerajaan
Banjar.
Pada
abad ke-16, di pedaleman Kalimantan terdapat Kerajaan Nagaradaha (Kerajaan
Daha). Banjarmasin merupakan slah satu wilayah kekuasaan kerajaan tersebut.
Kerajaan Banjar merupakan kelanjutan dari Kerajaan Daha yang beragama Hindu
yang dipimpin oleh Raja Sukarama. Adipai Banjarmasi yang bernama Raden Samudera
berhasil menaklukan kerajaan Nagaradaha dengan bantuan Kerajaan Demak. Akhirnya
berdirilah Kerajaan Banjar dengan Raden Samudera sebagai rajanya. Setelah masuk
Islam ia bergelar Sultan Suryanullah. Islam pertama kali masuk ke Banjarmasin
pada abad XVI. Saat itu proses islamisasinya sebagian besar dilakukan oleh
Kerajaan Demak. Dalam waktu yang tidak cukup lama, bahkan Islam banyak dianut
masyarakat dari suku Bugis di sungai bagian timur Kalimantan. Ulama yang sangat
terkenal di kerajaan tersebut adalah Syeh Muhammad Arsyad al-Banjari.
10. Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur.
Menurut
risalah Kutai, dua orang penyebar Islam tiba di Kutai pada masa pemerintahan
Raja Mahkota, yaitu Tuan di Bandang, yang dikenal dengan Dato’ Ri Bandang dari
Makasar dan yang satunya adalah Tuan Tunggang Parangan. Setelah pengislaman itu
Dato’ Ri Bandang kembali ke Makasar, sementara Tuan Tunggang Parangan tetap di
Kutai. Raja Mahkota tunduk kepada keimanan Islam, setelah itu segera dibanun
sebuah masjid dan pengajaran agama Islam dapat dimulai. Yang pertama mengikuti
pengajaran itu adalah Raja Mahkota sendiri, kemudian pangeran, para mentri,
panglima dan hulubalang dan akhirnya rakyat biasa.
Pada tahun
1550 Islam telah diperkenalkan kepada Kerajaan Sukadana di wilayah barat Pulau
Kalimantan. Meskipun raja yang berkuasa pada saat itu belum sempat memeluk
agama Islam, penerus kerajaan tersebut selanjutnya memeluk agama Islam. Bahkan,
pada tahun 1600 Islam menjadi agama yang sangat populer di sepanjang pesisir
pantai pulau tersebut.
Kerajaan Ternate berdiri pada
abad ke-13 di Maluku Utara, dengan ibu kotanya di Sampalu. Rajanya bernama
Sultan Zaenal Abidin, ia belajar agama Islam di Gegesik. Kerajaan Ternate
merupakan penghasil rempah-rempah yang besar di Nusantara. Pada abad ke-15,
kerajaan ternate menjadi kerajaan terpenting di Maluku. Kerajaan Ternate
mencapai kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Baabullah. Pada waktu itu
wilayah kekuasaan Ternate sampai ke Philipina Selatan. Untuk menjaga wilayah
keamanannya, ia memiliki 100 kapal kora-kora untuk menjaga wilayahnya. Pada
masa itu Sultan Baabullah mendapat gelar seabagai “Yang Dipertuan di 72 pulau”.
Ia juga dikenal sebagai pahlawan yang gigih menentang penjajahan Portugis.
Dengan kegigiannya ia bersama rakyatnya nerhasil mengusir Portugis dari Maluku
pada tahun 1795.
Seperti
halnya Kerajaan Ternate, Kerajaan Tidore pun merupakan penghasil cengkeh yang
besar. Berkat hasil cengkehnya itu kerajaan Tidore menjadi kerajaan yang maju.
Raja yang terkenal di Kerajaan Tidore adalah Sultan Nuku. Pada masanya,
kekuasan Tidore meliputi Halmahera, Seram, Kai, dan Irian Jaya..
- Sulawesi
(Gowa-Tallo, Bone, Wajo, Soppeng dan Luwu).
Kerajaan
Gowa-Tallo, kerajaan yang kembar yang saling berbatasan, biasanya disebut
kerajaan Makasar. Kerajaan ini terletak di Semenanjung Barat Daya Pulau
Sulawesi. Gowa-Tallo adalah kerajaan yang berpusat pemerintahan di Makasar
(sekarang Ujung Padang), yaitu di Simbaopu (Makasar). Selain itu pula terdapat
kerajaan lain seperti Bone, Sopeng, Wajo dan Luwu. Kerajaan Makasar merupakan kerajaan
yang pertama di Sulawesi. Sementara itu Bone, Waajo, dan Soppeng bersatu yang
disebut Tellum Pottjo (Tiga Kerajaan). Penguasa Kerajaan Gowa-Tallo pada tahun
1605 masuk agama Islam. Raja Tallo yaitu Kraeng Matoaya sebagai Mangkubumi
Kerajaan Gowa (Makasar), ia bergelar Sultan Abdullah.