Sentuhan hati
KATA PENGANTAR
BISMILLAHIROHMANIROHIM
Alhamdulillahirobbilalamin, wassolatuwassalamu alal mursalin saiyyidina Muhammadin, waala alihi wasohbihi ajma’in.
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah senantiasa memberikan rahmat dan taufik hidayah-Nya kepada kita semua. Selawat berangkaikan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Nabi Besar Muhammd SAW yang telah membawa risalah Dinul islam untuk perbaikan dunia dari sebuah zaman yang kita kenal hitam dan gelap sampai zaman yang terang benderang seperti yang kita rasakan ini.
Buku ini berjudul The Seven Touches Hearts yang berarti 7 Sentuhan hati yang akan menggugah Hati kita semua dan akan mengajak Anda semua untuk berpikir seberapa besar fungsi dan kapasitas Hati dalam membimbing kita ke arah keluasan berpikir dan berjuang tentang tujuan hidup yang sesungguhnya, bahwa apa yang selama ini kita ketahui, kita rasakan, kita harapkan dan kita pilih tak terlepas dari sentuhan Hati yang menakjubkan.
Karena Hati adalah Raja Bagi Tubuh, Jika baik ia maka baiklah seluruh amal perbuatannya dan jika Ia jelek maka akan jeleklah seluruh amal perbuatannya. ( HR. Bukhori Muslim)
Dalam penulisan buku ini disana sini pastilah mempunyai banyak kekurangan oleh sebab itu saya sebagai penulis mohon kiranya kirik dan sarannya demi perbaikan selanjutanya.
Dan hanya kepada Allah saya mohon ampun atas segala kekhilafan dan kesalahan, kiranya semoga buku ini dapat bermanfaat bagi saya dan kita semua yang membacanya. Dan semoga Allah meridhoi setiap langkah jalan baik kita, amin ya robbal alamin.
Pematangsiantar 2018 Penulis
Muliadi, SPdI
PENDAHULUAN
Hati adalah raja bersih dari lahirnya itulah fitrah yang kuasa yang diberikan Allah kepada setiap manusia.
Hati identik dengan Keyakinan karena keyakinan yang sesungguhnya adalah bersumber dari suara hati, bisikan suara hati yang benar akan menjadikan nilai- nilai keimanan yang akan memperkuat terhadap sesuatu yang kita imani. Karena Iman adalah sebuah anugrah terindah yang dianugrahkan Allah kepada kita semua. Dalam penjelasan para ulama dalam mendefenisikan iman berbeda- beda. Yang pada dasarnya adalah sama yaitu sebuah keyakinan terhadap sesuatu yang dianggap itu mempunyai dampak baik terhadap diri yang memberikan sebuah nilai spritualitas dalam kehidupannya. Kemudian dengan keyakinan yang kuat itu muncullah ide untuk melaksanakan apa yang diperintahkan dan berusaha mengamalkan apa yang diyakininya itu.
Dalam konsep islam banyak dijelaskan didalam Alquran tentang arti iman, berkenaan dengan apa yang kita yakini penulis sedikit akan membahas tentang kapasitas iman dalam menunjang proses keberhasilan manusia, baik didunia maupun diakhirat kelak. Iman adalah percaya, percaya disini bukanlah sekedar tahu atau yakin dengan apa yang kita ketahui, namun yakin dengan apa yang kita usahakan , yakin dengan apa yang kita lakukan , yakin dengan apa yang kita imani yang bersumber dari hati bahwasnya semua itu akan berhasil jika kita benar- benar melakukannya. Jika kita tidak yakin dengan apa yang kita lakukan ataupun kita usahakan maka apapun itu pasti tidak akan pernah berhasil.
Ada satu hal yang perlu kita perhatikan bersama bahwa sesungguhnya setiap langkah usaha yang kita lakukan adalah sebuah proses saja untuk mencapai keberhasilan itu, namun apabila tidak dibarengi dengan iman ataupun tidak diyakini dengan hati yang kokoh maka tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal. Dalam pembahasan ini juga akan kita dapati bahwa ternyata iman itu tidak luput dari rasa percaya diri. Manusia adalah insan yang berakal yang diberikan Allah kemampuan yang sangat luar biasa namun karena keegoisannya bisa mengakibatkan tidak munculnya iman seseorang tersebut.
Coba mari kita lihat disekeliling kita berapa banyak orang yang kita anggap tidak mempunyai iman. Sebenarnya bukan tak ada iman dihati mereka namun karena tertupnya hati mereka disebabkan perbuatan- perbuatan mereka yang menjauhkan mereka dari nilai- nilai kebaikan itu sendiri. Bahkan seorang ateis sekalipun pasti mempunyai iman terhadap apa yang dilihat dan dirasakannya di alam semesta ini.
Sebuah dilema yang sering kita hadapi dalam menjalani hidup ini adalah dilema “ kebimbangan ’’. mengapa demikian? Karena memang kita selalu bimbang ketika dihadapkan dengan pilihan- pilihan yang ada . dan pilihan itu benar- benar membutuhkan keyakinan dan iman yang kuat dari hati yang paling dalam untuk menentukannya. ” Sebuah kisah yang sangat menarik yang ingin saya paparkan adalah sebuah cerita dari negri bagdad yaitu seorang ulama yang kocak dan juga dikenal sebagai ulama sufi yang bernama Abu Nawas. Ceritanya begini “ pada saat ketika ayahnya akan meninggal, ayahnya memberikan pesan kepada Abu Nawas yang pada saat itu Ayahnya masih sakit. Ayahnya memanggil, hai Abu Nawas kemarilah! Abu Nawaspun datang menghampiri Ayahnya, kemudian Ayahnya berkata: cobalah kau cium telinga Ayah yang kanan, kemudian Abu Nawas pun mencium telinga Kanan ayahnya, setelah itu ayah nya berkata lagi: sekarang kau coba cium lagi telinga kiri ayah ini, dan Abu Nawaspun menciumnya lagi. Kemudian ayahnya berkata; sudahkah kamu tahu bau dari keduanya?? Sudah ayah jawab Abu Nawas, kalau telinga kanan berbau harum sekali sedangkan telinga kiri baunya seperti bau busuk. Tahukah kamu mengapa bisa demikian? Tidak ayah, Abu Nawas pun bingung!!. Ayahnya pun lalu menjawab Begitulah kalau menjadi seorang hakim yang tidak adil, selalu mendengarkan pengaduan dari kedua pihak tentang suatu perkara, yang kalu kita hanya mendengarkan yang sebelah pihak saja tanpa mau mendengarkan keluhan pihak yang lemah, maka beginilah jadinya. Maka jika kamu tidak mau menjadi seperti ayah ini carilah alasan supaya kamu tidak diangkat oleh baginda raja untuk menjadi seorang hakim. Disitulah Abu Nawas bisa mengerti kenapa jadi demikian.
Akhirnya abu Nawas pun mengambil keputusan dengan sebuah keyakinan yang mantab untuk tidak menjadi penerus ayahnya yang menjadi hakim, dan dia berpura- pura menjadi gila agar tidak diangkat oleh baginda raja untuk menjadi pengganti ayahnya.
Kembali kita kepada seberapa penting iman dalam menunjang proses keberhasilan kita. Iman identik dengan keyakinan. Oleh karena itu dalam mencapai sebuah cita- cita atau pun harapan maka terlebih dahulu kita harus yakin dengan apa yang kita capai itu. Dengan sebuah kesabaran dan keuletan maka seiring itu pula keyakinan akan tumbuh menjadi satu kekuatan yang akan mendorong kita lebih menjadikan diri kita percaya diri seperti yang dikatakan oleh nabi Idris As. Ia Berkata dan bernasihat dengan kata-kata mutiaranya :
1 . Kesabaran yang disertai iman kepada Allah membawa kemenangan.
2 . Orang yang bahagia ialah orang yang berwaspada dan mengharapkan syafaat dari Tuhannya dengan amal-amal solehnya.
3 . Bila kamu memohon sesuatu kepada Allah dan berdoa maka ikhlaskanlah dan yakinkanlah niatmu demikian pula puasa dan solatmu.
4 . Janganlah bersumpah dalam keadaan kamu berdusta dan janganlah menuntup sumpah dari orang yang berdusta agar kamu tidak menyekutui mereka dalam dosa.
5 . Taatlah kepada raja-rajamu dan tunduklah kepada pembesar-pembesarmu serta penuhilah selalu mulut-mulutmu dengan ucapan syukur dan puji kepada Allah.
6 . Janganlah iri hati kepada orang-orang yang baik nasibnya, karena mereka tidak akan banyak dan lama menikmati kebaikan nasibnya.
7 . Barang siapa melampaui kesederhanaan tidak sesuatu pun akan memuaskannya.
8 . Tanpa membagi-bagikan nikmat yang diperolehnya seorang tidak dapat bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat yang diperolehinya itu.
Sesuatu dapat terjadi ketika kita meyakininya, Sesuatu tidak akan terjadi ketika kita tidak meng imaninya , kehidupan bukan sekedar untuk hidup , tapi kehidupan adalah sebuah proses untuk menjadikan kita lebih mengetahui untuk apa, dan mau kemana kita.
Sebaik- baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain. Jangan pernah hidup tanpa iman karena Anda akan menjadi seperti buih dalam lautan. Tak tau kemana arah dan tujuan. Berbuat kebaikan apapun yang bisa kita lakukan insya Allah sentuhan iman dari hati yang bersih akan menyertai setiap langkah baik kita dalam mencapai apa yang kita harapkan, Kekuasaan dan Kemulyaan Allah tidak bergantung kepada banyak dan tidaknya orang yang beriman, sebab keimanan akan kembali kepada manusia itu sendiri. Iman itulah yang akan menyelamatkan manusia, baik di dunia maupun di akhirat.
1
MENGAPA HARUS BERIMAN?
Pada bab pendahuluan kita telah mengetahui apa itu iman, dan sekarang saya akan mengajak Anda untuk berpikir mengapa kita harus beriman? Pertanyaan ini mungkin sedikit aneh, tapi pernahkah Anda berpikir kenapa Anda harus beriman. Mungkin jawaban sederhananya adalah karena kita percaya bahwa sesuatu itu benar dan dapat mendatangkan kekuatan kepada kita yang dapat menyejukan hati kita. Yang jadi pertanyaan nya adalah sudah seberapa besar keimanan kita tersebut terhadap apa yang kita percayai itu?.Dan sudahkah kita Tanamkah dalam hati kita?
Iman adalah sebuah pengikraran dari lisan manusia yang diyakini oleh hati nuraninya kemudian diaplikasikan oleh semua anggota tubuhnya. Kalau kita mengaku beriman kepada Allah SWT yang kita ketahui Dia adalah zat yang maha sempurna , su dahkah kita berikrar atas apa yang kita yakini itu, atau sudahkah kita benar- benar yakin dari hati, atau sudahkah kita amalkan ajaran- ajarannya? Kalau jawabannya belum . apakah kita dikatakan beriman?. Apa yang senantiasa kita pikirkan dan rasakan. sebenarnya itu adalah bagian dari iman seseorang , ketika kita merasakan sesuatu yang tidak biasa mungkin Anda mengatakan bahwa itu suatu yang luar biasa,
Percaya atau tidak semua yang ada di alam semesta ini berjalan karena adanya sebuah proses antara ihsan, iman `dan sang maha pencipta. Semua yang terjadi yang pada semua dinamika kosmik dialam semesta beredar menurut kekuasan yang digambarkan oleh Sang Maha Sempurna kepada Anda dan sekali lagi Iman lah yang telah berhasil ,mengupayakan kita untuk takjub akan semua yang kita rasakan , kita nikmati, kita alami, di alam jagad raya ini. Itu lah berkat dari sebuah sentuhan iman yang di wahyukan Ilahi kepada setiap manusia. Gambaran sederhana yang bisa Anda lihat yaitu seperti berikut:
|
|
|
| |||
Namun kenapa masih ada manusia yang tidak percaya akan adanya Tuhan? Mengapa bisa demikian sehingga muncullah pertanyaan dalam hati kita bahwa apa sebenarnya yang dicari manusia tersebut? Dan motif dibelakang semua itu adalah karena adanya belenggu penutup antara hati dan pemiliknya yaitu nafsu ,sehingga tidak ada rasa iman di hatinya untuk mempercayai yang Maha Dahsyat tersebut. Kita sering menyebut mereka dengan faham ateis atau tidak mempercayai adanya Tuhan .Mereka tidak percaya bahwa semua yang tercipta, semua yang bergerak, dialam semesta ini ternyata ada yang mengaturnya.
Tidaklah mungkin semua itu terjadi tanpa ada yang mengaturnya, dan sungguh tidak mungkin semua itu terjadi dengan sendirinya. Yang jadi pertanyaan nya adalah dimana iman itu, tidak kah Tuhan menyiratkannya di hati mereka?. Sebenarnya bukan tidak ada iman di hati mereka untuk percaya akan semua itu. Namun disinilah perlu kita pahami tersentuh atau tidaknya hati mereka dengan apa yang telah mereka ketahui dan rasakan itu karena keegoisan yang selalu dikedepankan dan ilmu pengetahuan yang tidak jelas dasarnya sehingga pintu hidayahpun sulit teraih. Berangkat dari pemikiran diatas .coba Anda berpikir sejenak bagaimana mungkin itu bisa terjadi. Mengapa mereka tidak percaya akan adanya Tuhan. Jawabanya tidak lain dan tidak bukan adalah karena memang sudah tertutplah hati mereka dengan sentuhan- sentuhan iman, seperti yang diisyaratkan oleh Allah SWT dalam surat Yasin
“Sama saja bagi mereka diberi peringatan atau tidak mereka juga tidak akan beriman.” ( QS. Yasin :36 : 10 )
Baiklah itu hanya sekedar gambaran bagi Anda tentang proses keimanan manusia sekarang mari kita bahas tentang kapasitas iman dalam menunjang keberhasilan hidup manusia . Ada sebuah ungkapan mengatakan “ hidup tanpa iman seperti hidup didalam tanah yang tidak pernah terkena sinar matahari maupun indahnya pelangi”. Seorang pemuda berjalan tanpa kenal arah terus berjalan dan terus melangkah dia tidak tahu mau kemana ia sesungguhnya, tanpa kenal lelah ia terus melangkahkan kakinya. Saat ia berhenti untuk beristirahat iya sempat tertidur, didalam tidurnya ia bermimpi berjumpa seorang berjubah putih, dan semua serba putih, kemudian orang itu berkata , mau kemana kamu nak? Ia pun menjawab saya hanya mengikuti kemana langkah kaki hamba Tuan. Kenapa demikian ? saya tidak tahu apa arti hidup ini, yang saya tahu hanya hidup untuk mati, dan saat sekarang ini saya masih hidup. Kemudian seseorang itu bertanya lagi, Apakah sebenarnya yang engkau cari ? itulah yang saya tidak ketahui jawab anak itu. Seseorang itu berkata lagi: Hidup sebenarnya adalah sebuah proses awal untuk hidup kembali, tujuan hidup didunia adalah untuk hidup dialam akhirat, benar- benarlah hidup awalilah kehidupan dengan keiman yang kuat , dan lihatlah betapa besarnya karunia Tuhan yang telah diberikan-Nya kepadamu , berpikirlah untuk bisa benar- benar hidup.
Anak muda tersebut tersentak lalu bangun dari tidurnya, lalu ia bergegas untuk melanjutkan perjalannya, sambil berjalan ia berpikir tentang mimpi yang baru saja dialaminya itu. Ia terus bertanya- tanya dalam hatinya, semakin ia bergejolak dengan diri dan perasaannya. Akhirnya ia mengambil kesimpulan bahwa benarlah apa yang diisyratkan dalam mimmpinya tersebut. Ia bangkit dari kehidupannya yang begitu tak kenal arah, dan terus melakukan terobosan- terobosan baru untuk memperbaiki hidupnya, mulailah iman mnyentuh hatinya dan terus ia belajar dengan kesungguhannya untuk menemukan jati dirinya.
Berangkat dari cerita diatas mungkin Anda bertanya- Tanya mengapa saya menceritakan demikian , sebenarnya itu adalah bagian dari hidup saya yang dulu pernah galau, pernah resah bahkan tak kenal arah untuk menghadapi hidup ini. Tapi Alhamdulillah pada akhirnya Allah telah membing saya kearah yang benar.
Setiap manusia pastilah mempunyai yang namanya masalah, tidak ada satu manusiapun yang tidak pernah mengalami masalah, baik itu orang kecil maupun orang besar, baik orang tak berada maupun orang berada, baik orang awam maupun orang bangsawan, semakin besar kita maka akan semakin besar pula persoalan- persoalan hidup yang akan kita hadapi. Yang jadi pertanyaannya adalah sudahkah kita menyikapi masalah itu dengan benar? Apakah kita termasuk orang yang putus asa dalam setiap menghadapi masalah? Banyak kita lihat dimedia televisi, surat kabar, internet, majalah dan lain sebagainya, tentang kasus bunuh diri, narkoba, frustasi dll, bahkan dinegara- Negara besar seperti Amerika, Jepang, Inggris banyak sekali terjadi kasus bunuh diri. Kenapa bisa demikian? Jawaban sederhananya adalah karena sentuhan iman tak melekat dihatinya.
Padahal kalau dipikir secara ekonomi kehidupannya sudah diatas cukup, terus mengapa bisa demikian? Sikap putus asalah yang telah menyebabkan manusia nekad untuk melakukan hal- hal yang tidak wajar, tidak tahu bagaimana menyikapi sesuatu masalah, tidak memakai logika yang ada hanyalah keputus asaan yang terus memvaksinasi otak alam bawah sadar yang berdampak buruk terhadap prilaku, dan sering kali mengambil keputusan yang salah, yang pada akhirnya akan mengambil keputusan jalan pintas, seperti bunuh diri, mabuk- mabukan, narkobaan, frustasi dan bahkan menjadi gilak.
Itulah sebabnya kenapa kita harus beriman, tidak lain dan tidak bukan adalah untuk membentengi diri agar tidak terjerumus kedalam lembah kesesatan. Masalah bukan untuk dihindari tapi untuk dihadapi, sebuah ungkapan penyair mengatkan “ bersyukurlah pada kehidupanmu yang telah memberimu dahaga yang pedih kau rasakan. Karena tanpa dahaga hatimu bagai air laut tanpa gelombang tak kenal surut maupun pasang “(Kahil Gibran)
Hiasan yang terlihat didepan mata kita adalah bentuk wujud dari sebuah eksitensi yang pada dasarnya ia adalah sebuah benda yang tidak berharga, namun karena sentuhan dari tangan- tangan yang berbakat jadilah ia sebuah hiasan yang tampak indah. Begitulah manusia yang pada dasarnya adalah sebuah air yang hina kemudian berproses didalam sebuah tempat yang kita namakan rahim, dan disinilah Allah mulai menghiasi manusia dengan bentuk maupun sifat, yang pada akhirnya menjadi manusia yang sempurna. Dan kesempurnaan itu terjadi apabila kita dapat meng optimalkan apa yang telah di anugrahkan Allah itu kepada kita, yang akan menjadikan kita mahluk yang mulia. Namun apabila tidak kita hiasi dengan sifat- sifat kebaikan, dan sifat- sifat kemanusiaan maka akan samalah kita dengan mahluk Allah yang lainnya.
Dalam sebuah kajian historis bahwa Anda adalah mahluk yang paling menakjubkan dimuka bumi ini, sebuah kajian yang bisa saya gambarkan dalam bentuk sederhana akan kita lihat pada gambar berikut.

Dalam pembagiannya ternyata otak manusia mempunyai tiga bagian yang masing- masing mempunyai kekuatan dan potensi yang berbeda –beda. Yang apa bila kita dapat mengoptimalkan, menyatukan ketiga bagian otak kita tersebut maka sudah pastilah semua yang ada di jagad raya ini tidak mampu menandingi ciptaan Allah tersebut. Kenapa bisa demikian? Ternyata Alam semesta yang kita lihat ini Adalah alam semesta yang Abstrak artinya dapat dilihat dan dirasakan. Dan alam semesta yang tak terlihat adalah manusia itu sendiri,
Untuk masalah otak saja manusia sudah hampir bingung untuk menghitung berapa banyak kapasitas yang bisa ditampung oleh otak manusia , baru- baru ini ilmuan telah mempelajari otak manusia dan ditemukan bahwa Andai kata seluruh komputer yang ada dimuka bumi ini ditumpuk- tumpuk sampai menjulang tinggi kelangit , itu juga tidak akan mampu menandingi otak manusia, itu baru masalah otak, belum lagi masalah jasad dan ruh. Tubuh manusia yang mempunyai jutaan sel- sel penghubung saraf- saraf yang semua mempunyai kapasitas yang berbeda – beda, bisa Anda bayangkan diri Anda ternyata mempunyai potensi yang luar biasa. Itulah sebabnya Tuhan memilih kita untuk menjadi Khalifah fil Ardi dimuka bumi ini. Sebuah riwayat yang bisa kita petik dari cerita penciptaan awal manusia yaitu :
Pada suatu ketika Allah s.w.t. memerintahkan Malaikat Jibril supaya turun ke bumi untuk mengambil sebahagian tanahnya untuk dijadikan bahan mencipta Adam. Namun ketika tiba di bumi, bumi enggan tanahnya diambil untuk dijadikan Adam, hingga bumi bersumpah, demi Allah ia tidak akan rela sebahagian tanahnya dijadikan Adam. Kerana ia bimbang kelak Adam akan berbuat maksiat kepada Allah.
Lalu Jibril kembali ke hadirat Tuhan, ia tidak dapat berbuat apa-apa apabila mendengar sumpahnya bumi. Kemudian Allah menitahkan malaikat Mikail turun pula ke bumi dengan maksud yang sama, namun setelah mendengar perkataan bumi seperti apa yang dikatakan kepada Jibril, Mikail pun tidak dapat berbuat apa-apa, kembali ke hadrat Allah dengan tangan hampa.
Akhir sekali Allah menyuruh Malaikat Izra'il turun ke bumi untuk mengambil tanah. Kata Allah: "Hai Izra'il engkau kini Aku tugaskan mengambil tanah. Meskipun bumi bersumpah-sumpah dengan ucapan bagaimanapun, jangan engkau undur. Katakan bahawa kerjakan atas perintah dan atas nama-Ku."
Setelah Izra'il tiba di atas bumi, dia berkata: "Hai bumi, ketahuilah kedatanganku ke mari atas perintah Allah dan atas nama Allah. Jika engkau membantah atas pekerjaanku ini, bererti engkau membantah perintah Allah dan tentunya engkau tidak ingin menjadi makhluk yang durhaka kepada Allah, bukan?".
Mendengar perkataan Izra'il, maka bumi tidak dapat berkata apa-apa kecuali membiarkan Izra'il mengambil tanahnya dengan tidak banyak reaksi. Setelah Izra'il mengambil beberapa jenis tanah, kembalilah dia ke hadrat Illahi.
Kata Allah: "Ya Izra'il, pertama engkau yang Aku tugaskan untuk mengambil tanah, dan kemudian di belakang hari kelak engkau pula yang Aku tugaskan untuk mencabut roh manusia."
"Jika demikian hamba bimbang yang hamba ini akan jadi dibenci anak Adam kerana pekerjaan hamba ini," kata Izra'il.
"Tidak," jawab Allah: "Tidak mereka akan memusuhi engkau. Aku yang mengaturnya. Lalu Aku jadikan sebab-sebab untuk mendatangkan kematian mereka. Sebab terbunuh, sebab terbakar, sebab sakit dan sebagainya."
Mengikut keterangan para Ulama bahawa tanah-tanah itu adalah seperti berikut:
01. Tanah tempat bakal berdirinya Baitul Muqaddis
02. Tanah Bukit Tursina
03. Tanah Iraq
04. Tanah Aden
05. Telaga Al-Kautsar
06. Tanah tempat bakal berdirinya Baitullah
07. Tanah Paris
08. Tanah Khurisan
09. Tanah Babylon
10. Tanah India
11. Tanah Syurga Firdaus
12. Tanah Tha'if
Kata Ibnu Abbas:
* Kepala Adam dari tanah Baitul Muqaddis, kerana di situlah berada otak manusia dan di situlah tempat akal.
* Telinganya dari tanah Bukit Tursina, kerana ia alat pendengar tempat penerima nasihat.
* Dahinya dari Iraq, kerana di situ tempat sujud kepada Allah.
* Mukanya dari tanah Aden, kerana di situ tempat berhias dan tempat kecantikan.
* Mata dari tanah telaga Al-Kautsar, tempat untuk menarik perhatian.
* Giginya dari tanah telaga Al-Kautsar, tempat untuk memanis-manis.
* Tangan kanannya dari tanah ka'abah, untuk mencari nafkah dan kerja-kerja sesama manusia.
* Tangan kirinya dari tanah Paris, tempat beristinjak.
* Perutnya dari tanah Khurasan, tempat lapar dan haus.
* Kemaluannya dari tanah Babylon. Di situ tempat sex (berahi) dan tipu daya syaitan untuk menjerumuskan manusia ke lembah dosa.
* Tulang dari tanah Bukit Tursina, alat peneguh tubuh badan.
* Dua kakinya dari tanah India tempat berdiri dan berjalan.
* Hatinya dari tanah syurga Firdaus, kerana di situ tempat iman, keyakinan, ilmu, kemahuan dan sebagainya.
* Lidahnya, dari tanah Tha'if tempat mengucap kalimat syahadat, bersyukur dan berdoa kepada Tuhan.
Sungguh luar biasa memang proses penciptaan manusia ini, ketika Tuhan ingin menciptakan manusia semua melalui proses yang sangat menakjubkan, sudah sepantasnyalah kita menyadari dan bersyukur karena kita tak pantas berbangga diri dengan dengan apa yang kita miliki sekarang karena pada hakikatnya semua yang ada pada kita adalah apa yang ada di bumi ini.
2
ANTARA BENAR DAN SALAH
Suatu ketika pernah ada seorang teman bertanya pada saya “ mengapa yang benar disalahkan dan yang salah dibenarkan?” jawaban saya singkat saja karena benar tidak mau menyalahkan yang salah dan yang salahlah yang selalu menyalahkan yang benar. Begitulah jikalau kita tidak memahami betapa penting arti sebuah kebenaran, seperti yang kita ketahui di Negara tercinta kita ini. Banyak sekali kasus yang sudah nyata- nyata ia bersalah masih juga ada pembelaan demi kepentingan pribadi. Rasa- rasanya kita kembali kezaman zahiliyah, tapi kali ini saya menyebutnya dengan zaman jahiliyah modern. Kenapa bisa demikian? Ternyata pada zaman Jahiliyah manusia lebih mengedepankan kepentingan pribadi dibandingkan dengan kepentingan bersama. Mereka mempunyai kebiasan yang buruk, apabila saudara mereka yang bersalah mereka bersusah payah untuk membantu agar tidak tersalahkan, dan apabila mereka yang benar sudah barang tentulah yang salah makin terzolimi.
Dan ternyata kita kembali lagi kezaman jahiliyah tersebut dimana manusia lebih mengedepankan kepentingan pribadinya dibanding dengan kepentingan orang banyak, banyak orang- orang pintar, tetapi ternyata hanya pintar membohongi, pintar berdalih, pintar merekayasa yang pada akhirnya membuat terobosan- terobosan yang salah dan keliru yang hanya membuat orang- orang kecil tambah kecil , orang lemah tambah lemah dan semakin tak berdaya.
Sebaris firman Allah mengingatkan kepada kita dalam surat Al-isra 7 yaitu: “ Jika kamu berbuat baik berarti kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan Jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri…….(QS. Al- Isra’:17: 7)”
Sudah pastilah jika kita menabur kebaikan pasti Allah akan membalas dengan kebaikan dan sekiranya kita menabur kejahatan maka tunggulah badai kejahatan akan kau tuai juga. Mungkin tidak hari ini balasan itu kita dapat, tapi yang pastinya sekecil apapun perbuatan baik buruk kita pasti ada imbalannya, berhati- hatilah dalam bertindak karena batas benar dan salah itu hanya setipis kulit bawang yang jika kita tidak hati- hati maka sudah pastilah kerugian yang ada.
Sering kali kita keliru dengan sebuah keputusan yang manakah yang benar, dan manakah yang salah. Berada di antara dua pilihan memang membingungkan, suara hati sering kali mucul bahwa inilah yang benar, tapi benarkah demikian? Benarkah ini bersumber dari suara hati? Suara –suara itu sekali lagi menggoyahkan pilihan kita, terkadang kita tidak tahu mana yang suara hati dan yang mana bisikan saiton, jadi bagaimankah kita dapat membedakan antara keduanya. Sekali lagi kekuatan imanlah yang akan berperan dalam menentukannya, hidup adalah pilihan terserah apa pun yang akan kita pilih dampak baik maupun buruknya kita sendiri yang akan mengalaminya.
Berbuat sesuatu yang Anda sendiri tidak menyukainya bagai mana bisa itu Anda lakukan kepada orang lain , artinya setiap perbuatan yang ingin kita lakukan hendaklah dipikirakan terlebih dahulu, hendaklah dilandasi dengan nilai- nilai keimanan yan kokoh insya Allah ,Allah akan senantiasa menuntun kita dalam pemilihan kehidupan yang benar Allah akan menampakkan kepada kita bahwa yang benar- itu benar dan yang salah itu salah . sekali lagi sentuhan iman akan selalu mengiri langkah- langkah kita dalam menentukan pilihan hidup yang benar. Jangan pernah berkata bosan dalam melakukan kebaikan, terus dan teruslah berjuang demi kebaikan dirimu dan kebaikan sesamu. Allah maha mengetahui setiap perbuatan hamba- hambanya dan Dia akan selalu ada disetiap langkah baik yang kita lakukan. Ingat ! “Famayyakmal miskola zarrotin hoiroyyaroh wamayyakmal miskola zarrotin sarroyyaroh”(Qs.Alzalzalah:99:7-8)
Ada sebuah ungkapan mengatakan ‘’ Hidup ini tidak Adil “ bahkan ada teman saya dengan candanya mengatakan “ zaman sekarang ini zamannya orang yang berkuasa alias zaman edan, yang kaya tambah kaya yang miskin makin menderita”. Secara kenyataan mungkin memang demikian. Tapi benarkah demikian? jangan terlalu banyak menyalahkan nasib, jangan terlalu banyak menyalahkan pemerintahan yang tidak adil, pernahkah kita menyalahkan diri kita sendiri? Ketidak adilan mereka tidak harus menjadikan diri kita lemah, kekayaan mereka tidak harus melemahkan kita untuk berbuat lebih banyak, ingatlah yang Maha Kaya, yang Maha Adil selalu bersama kita. Pahamilah kehidupanmu dengan melakukan hal- hal yang mendatangkan kebaikan dan bukan keburukan. Sebuah gambaran cerita yang berjudul “Tak sejahat Firaun”
Khalifah Al-Makmun memang kurang disukai oleh rakyatnya. Banyak ulama dan orang salih yang memusuhinya. Bahkan sejarah mencatat beberapa nodahitam dalam masa pemerintahannya.
Oleh kerana itu, acap kali mimbar-mimbar agama dimanfaatkan oleh para mubalig untuk menyerukan masyarakat agar lebih bersungguh-sungguh melawan kemungkaran dan kezaliman para penguasa. Namun sejauh itu, tidak ada yang berani menunjuk hidung dan dengan terang-terangan mencacinya.
Pada suatu Jumaat, Khalifah Al-Makmun mengunjungi Bashrah. Ia ikut sholat di masjid agung kota kelahiran Imam Hasan Al-Bashri itu. Tiba-tiba sang khatib dalam khutbahnya menyebut namanya dengan nada tidak sopan dan membongkar serta menuduh keculasan-keculasan secara kasar. Khalifah mengelus dada. Siapa tahu khatib itu cuma terbawa emosi akibat hawa panas yang sedang menyengat seluruh negeri?
Kali yang lain, ketika Khalifah menjalankan sholat jumaah di mesjid yang berbeza, kebetulan khatibnya sama, seperti pada waktu ia bersembahyang di masjid agung Bashrah. Dan khatib itu mengulangi kembali makian serta kutukan-kutukannya kepada Al-makmun. Di antaranya sang khatib berdoa, "Mudah-mudahan Khalifah yang sewenang-wenang ini dilaknat oleh Allah s.w.t." Maka habislah kesabaran Al-Makmun. Khatib itu diperintahkan untuk datang menghadap ke istana. Setengah dipaksa, khatib tersebut akhirnya mahu juga mengunjungi Khalifah.
Kepada khatib yang keras itu Al-Makmun betanya, "Kira-kira, manakah yang lebih baik, Tuan atau Nabi Musa?" Tanpa berfikir lagi, sang khatib yang galak itu menjawab, "Sudah tentu Nabi Musa lebih baik daripada saya. Tuan pun tahu bukan?" "Ya,ya. Saya fikir begitu," sahut Al-Makmun. "lalu, siapakah menurut pendapat Tuan yang lebih jahat, saya atau Firaun?" Disini sang khatib terperangah. Ia sudah boleh menduga kemana tujuna pertanyaan itu. Namun ia harus menjawab sejujurnya. Maka ia lantas berkata, "Pada hemat saya, Firaun masih lebih jahat daripada Tuan."
Al-Makmun kemudian menegur, "Maaf, Tuan. Seingat saya, bagaimana pun jahatnya Firaun, sampai ia mengaku tuhan, dan bertindak kejam kepada umat Nabi Musa, malah telah menebus hidup-hidup dayang-dayang putrinya yang bernama Masyitah beserta susuannya, pun Nabi Musa diperintahkan Allah untuk berkata dengan lemah lembut kepada si zalim itu. Tolong dapatkah Tuan membacakan buat saya perintah Allah yang dimuat dalam Al-Quran tersebut?"
Tergagap-gagap sang khatib membacakan surah Thoha ayat 44 yang artinya: "Berikanlah, hai Musa dan Harun, kepada Firaun nasihat-nasihat yang baik dengan bahasa yang halus, mudah-mudahan ia mahu ingat dan menjadi takut kepada Allah."
Khalifah Al-Makmun tersenyum sebelum dengan tegas bertitah,"kerana itu, pantas bukan kalau saya meminta Tuan untuk menegur saya dengan bahasa yang lebih sopan dan sikap yang lebih bertata krama? Lantaran Tuan tidak sebaik Nabi Musa dan saya tidak sejahat Firaun? Ataukah barangkali Tuan mempunyai Al-Quran lain yang memuat ayat 44 surat Thaha itu?"
Khatib tersebut tidak boleh menjawab sepatah pun. Hatinya tidak puas, rasanya masih ingin mengutuk Al-Makmun dengan kalimat yang lebih garang dan keras. Akan tetapi, bagaimanapun pahitnya, perintah Allah harus dipatuhi, ayat Al-Quran harus dipegang. Kerananya, sejak saat itu ia berkhutbah dengan nada yang berubah dan isi yang lebih menyentuh. Terbukti, dengan cara itu, makin banyak masyarakat yang terpikat dengan pengajaran-pengajarannya, lalu berbalik langkah dari dunia hitam yang penuh maksiat, untuk bertaubat melaksanakan ibadah yang lebih taat.
Melalui mimbar-mimbarnya, ia sudah berani lantang mengutip surah An-Nahl ayat 125 yang berbunyi : "Serulah ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana, dengan nasihat yang baik, dan berhujahlah kepada mereka dengan landasan yang lebih mendalam."
Nyatanya, acap kali manusia dapat menggali mutiara dari lumpur laut yang hitam legam. Sebab dari seekor ular yang berbisa dan menjijikkan, keluarlah berbutir-butir telur yang halal dimakan. Maka patutlah apabila Sayidina Ali bin Abi Thalib pernah berpesan, "unjur ma qola wala tanjur manqola “... lihatlah apa yang dikatakan, dan jangan melihat siapa yang mengatakan."
Benar dan salah itu adalah dua sisi yang bersamaan, benar muncul karena ada kata salah dan salah muncul karena ada kata benar, tidak akan benar sesuatu itu jika tidak dimulai dari kesalahan, orang bijak berkata “ lebih baik salah karena banyak bertindak dari pada diam tak melakukan Apa- apa. Pertanyaannya adalah hal apakah yang seharusnya kita lakukan agar tidak selalu mengalami kesalahan? Bagaimankah menyikapi hidup yang serba salah? Adakah hal- hal yang seharusnya dimaklumi? Jawaban sederahanya adalah hidup itu harus punya tuntunan, Hidup itu harus punya Tujuan/ arah ( Life must have a purpose ). Anda pernah mengalami kesalahan? berbahagialah karena dengan kesalahan itu akan ada kebenaran, Anda yang pernah sering Kali melakukan kesalahan? bersyukurlah karena dengan kesalahan itu Anda akan menjadi bijak dalam menentukan langkah-langkah berikutnya, Anda yang selalu melakukan kesalahan? mulailah intropeksi diri karena dengan demikian Anda akan menjadi orang yang benar. Jangan pernah takut untuk melakuakan sesuatu, jangan pernah takut melakukan kesalahan karena itu semua adalah awal dari kebenaran.
Tuhan pun akan memakluminya jika kita tahu kesalahan kita, dan segerahlah perbaiki diri melakukan terobosan- terobosan baru kearah kebaikan dan kebenaran. Yang terpenting adalah kita mau menyadari dan mau berbenah diri atas kesalahan yang kita lakukan. Bukan tidak mungkin gunung dapat di pindahkan, bukan tidak mungkin lautan dapat di taklukan semua itu terlaksana jika kita paham arti sebuah MEMULAI, dan permualaan itu pasti mempunyai kesalahan walaupun hanya sedikit. Tidak semua yang kita lakukan harus benar tapi yang terpenting adalah seberapa besar kemauan kita untuk memperbaiki kesalahan tersebut.
Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, "Pada suatu malam setelah salat Isya saya keluar bersama Rasulullah s.a.w. Tiba-tiba di hadapanku ada seorang wanita bercadar yang sedang berdiri di tengah jalan, seraya berkata, "Wahai Abu Hurairah! Sesungguhnya aku telah melakukan perbuatan dosa besar. Apakah masih ada kesempatan bagiku untuk bertaubat?" Lalu saya tanya wanita itu, "Apakah dosamu itu?" Dia menjawab, "Aku telah berzina dan membunuh anakku dari hasil zina itu." Kukatakan padanya, "Kau telah binasakan dirimu dan telah binasakan orang lain. Demi Allah, tidak ada kesempatan bertaubat bagimu." Mendengar jawapanku, wanitu itu menjerit histeris dan jatuh pingsan. Setelah siuman dia pun lantas pergi. Aku berkata di dalam hati, "Aku berfatwa, padahal Rasulullah s.a.w. ada ditengah-tengah kami?"
Pada pagi harinya aku menemui Rasulullah dan berkata, "Wahai Rasulullah! Tadi malam ada seorang wanita meminta fatwa kepadaku berkenaan dengan ini…. dan ini…." Setelah mendengar penjelasan aku, beliau bersabda, "Innaa lillahi wa inna ilahi raajiun! Demi Allah, celakalah engkau dan telah mencelakakan orang lain. Tidakkah kau ingat ayat ini :
"Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal soleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Furqaan: 68-70)
Maka aku keluar dari sisi Rasulullah s.a.w. dan berlari menyusuri gang-gang jalan Madinah, sambil bertanya-tanya, "Siapakah yang boleh menunjukkan aku kepada seorang wanita yang meminta fatwa kepadaku tentang begini dan begini tadi malam?" Sementara anak-anak bersorak, "Abu Hurairah sudah gila!" Hingga menjelang larut malam, baru aku menemukannya di tempat itu. Maka kuberitahukan segera kepada wanita itu seperti apa yang dikatakan Rasulullah s.a.w. bahawa dia boleh bertaubat. Wanita itu kembali menjerit kegirangan seraya berkata, "Kebun yang kumiliki akan kusedekahkan kepada orang-orang miskin kerana dosaku."
Benar dan salah itu Anda yang menentukan, pantas atau atau tidak adalah kepuasan Anda dalam berbuat, dalam menjalani hidup banyak pilihan dan hidup ini di sertai dengan kebenaran dan kesalahan yang terpenting Adalah bukan Anda tidak pernah bersalah tapi yang terpenting adalah bagaiman Anda menyikapi, memperbaiki dan berintropeksi diri dari kesalahan yang telah kita lakukan, mudah – mudahan Allah selalu membimbing kita dalam perbaikan diri menuju kebenaran.
3
HAQQUL YAKIN
Setiap yang bergerak di Alam semesta ini tidak pernah luput dari pandangan Allah bahkan sebutir atompun bergerak karena kehendak-Nya, hidup ini telah ditentukan oleh sang Maha pencipta, langakah, rezeki, pertemuan dan kematian semua telah ditetapkan oleh-Nya, kita tidak perlu takut untuk mencari apa yang telah Allah tebarkan dimuka bumi ini, kita tidak perlu takut tentang rezeki yang ada, jangankan kita yang mau berusaha cacing dalam tanahpun mendapat rezeki dari Allah, bahkan mahluk yang sama sekali tidak bisa apa- apapun itu pasti mendapat rezeki dari Allah. Mengapa banyak orang takut kalau- kalau dia tidak kaya? Banyak orang takut kalau dia jadi miskin emang apa bedanya antara kaya dan miskin? Bukankah semua manusia sama di hadapan- Nya yang membedakan hanyalah ketaqwaannya saja. Terkadang kita tidak pernah yakin dengan apa yang kita usahakan sehingga muncullah hal- hal yang meragukan diri dan khawatir kalau- kalau yang kita lakukan tidak berhasil, kalau- kalau yang kita harapkan tidak terlaksana, yang pada gilirannya akan menumbuhkan sikap pesimisme dan sering sekali menyalahkan nasib kenapa begini dan kenapa begitu.
Sebuah hikayat: Ibrahim bin Adam adalah seorang yang berlebihan dalam soal berpakaian dan konon dia mau bertaubat karena seperti cerita berikut: pada suatu hari ia pergi berburu ditengah- tengah perjalanan Ia beristirahat untuk menikmati makanannya. Untuk itulah dihamparkannya tikar untuk makan. Setelah makanan tersedia diatas tikar tiba- tiba datanglah seekor gagak yang sempat menggondol rotinya. Roti di bawa terbang diangakasa. Ia heran dan segera mengambil kudanya untuk mengejar burung tersebut. Namun sewaktu burung gagak dikejar, ia sempat terbang keatas gunung dan kabur dari pandangan pemburunya, dan sebaliknya dengan Ibrahin bin Adam rupanya tidak putus asa. Ia segera mendaki gunung dan tetap mengejar burung gagak, namun dari kejauhan saja ia tak pernah pudar dari semangatnya. Dia berusaha mendekati burung pencuri makananya itu.
Akan tetapi ketika ia mendekati burung itu, burung itu terbang, Ibrahim bin Adam terus mengejarnya kembali,
Dan pada akhirnya setelah berusaha mengejar, ia bertemu seorang yang lagi terlentang dan terjerat. Kemudian ia turun dari kudanya dan menolong orang itu. Ia bertanya tentang dirinya kenapa bisa sampai demikian.
Orang itu pun bercerita: “ Aku adalah seorang pedagang yang baru kali ini dihadang oleh penyamun. Mereka berhasil merampas semua hartaku, bahkan mereka malah menjeratku yang akhirnya aku dibuang disini. Aku disini sudah enam hari. Tapi setiap hari aku selalu diberi makan oleh seekor burung gagak yang hinggap didadaku dengan membawa roti yang dipotong- potong dengan paruhnya untuk dimasukan kedalam mulutku. Jadi selama aku disini tak pernah dibiarkan kelaparan oleh Allah. Begitulah orang itu bercerita.
Selanjutnya Ibrahim bin Adam mengajak orang itu ketempat dimana ia menghamparkan tikarnya.
Dengan terjadinya peristiwa tersebut, akhirnya Ibrahim bin Adam bertaubat kepada Allah dan menukar pakaiannya dengan pakaian yang sederhana. Disamping itu ia juga memerdekakan budak- budaknya dan mewaqafkan harta- hartanya. Bahkan Ia pergi ke Makkah dengan memegang tongkat tanpa membawa bekal apapu juga. Namun meskipun demikian, dia juga tidak kelaparan, hingga Ia bisa sampai ke Makkah dan bertemu Ka’bah.
Disinilah kita perlu memahami diri sebagai seorang hamba. Haqqul yakinlah bahwa setiap yang ada semua telah ditetapkan olehNya baik itu masalah rezeki, jodoh maupun kematian, yang terpenting adalah kita mau menjalani proses- proses dalam menuju apa yang hendak kita tuju, masalah berhasil atau tidak Allahlah yang mengabulkannya.
Setiap orang pasti pernah mengalami kegagalan, baik itu dari segi pencapaian karir, ekonomi, belajar maupun yang lainnya. Jangan jadikan kegagalan sebagai dalih untuk tidak berhasil, kegagalan bukanlah akhir dari sebuah pencapaian tapi sebuah awal dari kesuksesan, orang bijak berkata “kegagalan adalah hanya sebuah kesuksesan yang tertunda”. Proses dalam mencapai kesuksesan diawali dengan niat yang kuat. Niat yang kuat akan menumbuhkan keyakinan yang kokoh dan selanjutnya disertai dengan Tindakan yang nyata, yang saya gambarkan dalam bentuk sederhana seperti berikut:

Menjalani hidup ini tanpa keyakinan akan membawa kita kepada jurang kekhawatiran dan keragu-raguan. Hidup memang penuh dengan tanda Tanya, sembari banyak kita lihat manusia yang bertingkah laku yang bermacam- macam, baik dari segi kebiasaan maupun dari segi kebudayaan. Sewaktu saya masih SMA saya pernah mempelajari ilmu Antropologi dan Sosiologi, ilmu ini berkaitan dengan erat dengan social budaya cultural manusia , kalau dipisahkan ilmu Antropologi lebih mengkaji tentang pola hidup kebudayaan dan kepercayaan manusia, sedangkan Sosiologi lebih mengkaji tentang social kemasyarakatan. Yang jadi pertanyaan saya pada waktu itu adalah kenapa ada manusia yang menyembah batu, roh nenek moyang, pohon dan lain sebagainya dan kebiasaan- kebiasaan aneh yang sebenarnya kalau dipikir secara logika itu tidak pantas untuk dilakukan, bahkan sampai sekarang masih banyak kebiasaan- kebiasaan aneh tersebut, seperti menganiaya dirinya sendiri, menindik hidung, menindik kelopak mata dan lain- lain yang semuanya terlalu berlebihan, bahkan ada yang rela mati untuk disalib sebagai bentuk perwujudan diri sebagai pengikut yesus kristus, dan semua itu dilakukan atas dasar kesenangan masing- masing, sungguh mengherankan memang jika kita lihat fenomena sekarang ini, banyak manusia melakukan prilaku menyimpang yang semua itu dilakukan demi kepuasan diri mereka sendiri.
Pertanyaannya adalah kenapa bisa demikian? Karena itulah bagian dari keyakinan manusia. Semua itu tidak bisa kita pungkiri bahwa apapun itu pasti punya dasar masing- masing yang mengantarkan mereka kepada perbuatan- perbuatan seperti itu. Itulah misteri kehidupan semua dijalankan manusia berdasarkan keyakinan yang dipegangnya. Sekali lagi bahwa keyakinanlah yang mengantarkan manusia kepada apa yang diinginkannya.
Jadi untuk masalah yang tidak benar saja banyak manusia yang yakin untuk melakukannya apalagi Anda yang yakin dengan jalan kebenaran pastilah harus yakin dalam mencapainya. Tidak perlu takut untuk berbuat selagi itu benar lakukakanlah dengan sungguh- sungguh. Karena dengan kesungguhan akan membawa keberhasilan. Sebuah cerita tentang Bilal bin rabbah yang rela mati mempertaruhkan iman: Bilal (berkulit hitam) adalah di antara 7 orang yang pertama menzahirkan keIslaman secara terangan meskipun diancam oleh kafir musyrik. Apabila mengetahui hambanya, Bilal telah memeluk Islam, tuannya telah menyeksa Bilal dengan memakaikan baju besi dan kemudian dijemur di padang pasir yang sangat panas. Ketika ditanya tentang pegangan agamanya, Bilal tetap mengatakan 'Ahad! Ahad!' (Allah Yang Esa, Yang Esa).
Bilal kemudian diseret hingga ke lereng-lereng gunung tetapi Bilal tetap memperkatakan 'Ahad! Ahad!'. Imannya tidak bergoncang sedikitpun. Melihatkan tidak apa perubahan berlaku dalam diri Bilal, mereka kemudian mempertingkatkan seksaan dengan meletakkan batu besar di atas badannya yang terjemur di tengah panasnya matahari. Namun tiada ucapan lain yang keluar dari mulut Bilal kecuali 'Ahad! Ahad!' Bilal rela mati daripada menukar pegangan agamanya yang haq kepada yang bathil.
Apabila Saiyidina Abu Bakar diberitahu tentang seksa yang dialami oleh Bilal, Abu Bakar terus berjumpa Umaiyah yang sedang menyeksa Bilal dan kemudian meminta Bilal dibebaskan. Sebagai ganti Abu Bakar menyerahkan seorang hamba hitam yang lebih kuat sebagai tebusan. Sebaik saja ditebus, Saiyidina Abu Bakar pun membebaskan Bilal dari perhambaan.
Sebuah Moral & Iktibar yang bisa kita ambil adalah bahwa :
* Haqqul yakinlah dalam melakukan sesuatu kebenaran walaupun pahit kau rasa
* Iman yang kental dan pegangan aqidah yang kukuh tidak dapat digugat sekalipun diseksa dengan pelbagai seksaan.
* Kemanisan iman yang kuat tidak ada bandingnya dengan dunia dan seisinya.
* Allah tidak melihat kecantikan fizikal seseorang tetapi yang paling utama ialah kecantikan hati.
* Allah mempertingkatkan tahap atau derajat keimanan seseorang, dengan mengenakan ujian dan cobaan.
* Bertambah kuat iman seseorang, bertambah hebat ujian yang Allah kenakan kepadanya
* Ujian dan bala yang dikenakan ke atas seseorang bukan bererti Allah membencinya, sebaliknya ia adalah satu rahmat untuk meninggikan darjatnya di sisi Allah.
* Bala sebenarnya bukan 'bala' tetapi adalah satu nikmat yang patut disyukuri.
* Kekayaan dan kesenangan hidup belum tentu menjadi satu nikmat, bahkan ia satu cubaan/bala untuk menguji kita mensyukuri nikmat Allah atau tidak.
Namun dalam pencapaian hidup yang benar tidaklah mudah , semua harus dijalani dengan sebuah proses kesabaran dan keikhlasan yang semuanya akan membangkitkan kekuatan – kekuatan yang tersembunyi didalam diri manusia itu sendiri. Manusia hidup Jangan pernah bosan dalam melakukan kebaikan semua yang Allah berikan adalah hasil dari perbuatan kita, sebab –sebabnya adalah kita yang melakukan, akibatnya adalah Allah yang akan tunjukan dari apa yang kita usahankan, Karena sesungguhnya Allah berkehendak atas dasar dan prasangka hambanya. Jadi selalulah berprasangka baik kepada Allah. Insya Allah kebaikan akan selalu menyertai kita.
4
BELENGGU KEBENCIAN
Manusia adalah mahluk yang paling misterius, karena mempunyai karakteristik yang berbeda –beda baik dari segi pola pikir maupun yang lainnya. Mengherankan memang kalau dari sebuah kesuksesan akan ada sebuah kebencian, kalau dari sebuah kesalahan akan ada kebencian yang berurat berakar alias dendam . Lidah memang tidak bertulang, bisa berkata apa saja, semanis madu bahkan bisa sepahit empedu itu lah lidah banyak orang sakit hati, benci bahkan sampai menjadi dendam yang membara karena sebuah ucapan. Ucapan yang baik akan mendatangkan kebaikan , ucapan yang buruk akan mendatangkan keburukan, karena setiap kata adalah Doa.
Namun sepanjang yang saya ketahui banyak orang sakit hati karena sebuah ucapan, bahkan menjadi benci yang sampai berurat berakar. Ada teman saya yang pernah mengisahkan hidupnya kepada saya , ia bercerita kepada saya bahwa ia pernah melakukan kesalahan dalam berbicara sampai akhirnya ia dibenci oleh temannya yang sebenaranya mereka adalah teman akrab. Ia berusaha mengklarifikasi ucapannya tersebut dan berusaha meminta maaf tapi apalah daya belenggu kebencian telah merasuk kedalam dadanya. Sehingga jurang pemisah pun semakin renggang dalam persahabatan mereka. Akhirnya hanya kata- kata maaf yang kurang ikhlaslah yang muncul tanpa mau memperbaiki hubungan persaudaraan lagi. Itulah akibat dari racun kebencian yang telah berurat berakar.
Padahal kita ini hanya manusia biasa yang tak luput dari khilaf dan dosa, Allah saja yang kebesarannya meliputi langit dan bumi dan seluruh alam semesta ini masih mau mengampuni hambanya yang melakukan dosa besar sekalipun, tapi kenapa kita manusia mahluk yang begitu lemah ini begitu egois tidak mau memaafkan sesamanya. Apakah kita lebih hebat dari sang maha pencipta? Barang kali tidak, benci adalah racun vaksinasi yang begitu ampuh dapat merusak sel- sel syaraf manusia itu sendiri ,itu adalah penyakit yang dapat menyebabkan penyakit- penyakit lain muncul dalam diri manusia. Benci adalah bagian dari ketidak senangan manusia terhadap apa yang telah membuatnya sakit hati sehingga dapat berubah menjadi dendam yang membara. Yang dapat juga Merubah manusia baik menjadi jahat tanpa berpikir lagi benar atau salah yang terpenting baginya adalah melampiaskan kebencian dan dendamnya itu walau dengan cara kotor sekalipun.
Banyak kisah yang mungkin kita alami atau kita saksikan disekitar lingkungan kita. Mungkin kita tidak sadari bahwa sebenarnya kebencian akan dapat menimbulkan penyakit batin bahkan juga penyakit fisik yang akan menumbuh kembangkan penyakit yang ada. Ada sebuah kejadian yang sangat menyentuh saya sehingga mendorong saya untuk menuliskannya di buku ini. Cerita ini berawal dari sesorang yang mempunyai kebiasaan baik dan buruk yaitu kadang sering bercanda kadang juga sering meng hina, jika ia tidak suka kepada seseorang ia akan mengupat dengan kata- kata yang menyakitkan, bahkan melakukan sesuatu yang itu dapat menyinggung perasaan orang , singkat cerita dan wallohumua’lambisawab ia jatuh sakit dan akhirnya ia meninggal dunia dengan berbagai penyakit yang sudah dibilang komplikasi, itulah akibat penyakit hati yang terus disimpan yang akhirnya membara menjadi bara api yang akan merusak sel-sel tubuh yang lain.
Hidup ini begitu singkat, mungkin paling lama kita hidup 100 tahun dan itu sudah jarang sekali kita temui, tak perlulah berbangga diri dengan apa yang kita miliki, semua itu hanya lah titipan, suatu saat pasti diambil oleh pemiliknya, sadarkanlah diri kita bahwa kematian pasti datang menjemput, tidak perlu menyimpan dendam, tidak perlu ber benci hati kepada sesama, semua itu akan merugikan diri kita sendiri, biarkan lah orang sukses kita tidak perlu beriri hati, kita harus bangga dengan kesuksesan orang lain. biarkanlah orang lain menghina atau bahkan mencaci jikalau Allah masih memuliakan , kita tidak akan terhina, mengalah bukan berarti kalah tapi mengalah untuk menang. Ingatlah setiap perbuatan pasti ada balasannya.
Santai saja dalam menjalani hidup ini tidak perlu dendam tidak perlu iri hati, kepada orang yang berhasil, terkadang manusia ini seperti SMS ( senang melihat orang susah, susah melihat orang senang) ada saja yang tidak disenanginya dengan orang lain. Apalagi orang itu orang yang maju. Berkata baik susah, namun kalau berkata keburukan sangat antusias, bahkan sampai- sampai bangga dengan keburukannya itu. Tidak sepantasnya kita bangga dengan keburukan yang kita lakukan seharusnya kita mau berintropeksi diri dengan kesalahan- kesalahan kita lakukan. Jangan terlalu sering memandang semut diujung lautan tetapi gajah dipelupuk mata tidak kelihatan, jangan suka melihat- lihat kesalahan orang tapi kesalahan diri kita sendiri kita tidak tahu.
Apapun yang ada didunia ini semua akan binasa tak terkecuali, hanya Allah lah yang akan tetap berkuasa. Jadi tidak pantas kita menyimpan dendam, benci dan iri hati. pantaskanlah diri untuk menjadi manusia yang baik. Baik di mata Allah dan baik pula dimata manusia.
Sebuah cerita yang sangat berkesan
Saiyidina Usman bin Affan diangkat menjadi Khalifah selepas Saiyidina Umar bin Khatab dibunuh oleh musuh dalam selimut dari golongan kaum munafik. Ketika itu keadaan masih lagi dilanda pergolakan dan keresahan. Dengan ketegasan sikap dan kebijaksanaan Saiyidina Usman suasana pemerintahan dapat dikendalikan secara aman oleh Khalifah yang berjiwa lembut itu. Ramai penganut agama lain datang berduyun-duyun masuk Islam. Salah seorang daripadanya adalah seorang pemuda Yahudi dari Yaman yang bernama Abdullah bin Saba'.
Namun ternyata Abdullah bin Saba' mempunyai tujuan lain disebalik memeluk Islam. Ia mengharapkan Khalifah selaku penguasa negara akan memberikan kehormatan kepadanya. Maka berangkatlah Abdullah bin Saba' ke Madinah. Ia meminta izin mengadap Khalifah. Setelah diperkenankan ia menyampaikan keinginannya agar diberi kedudukan tinggi di salah satu jabatan terpenting dalam bidang apa saja. Tetapi Saiyidina Usman menolak dan berkata "Aku hanya seorang pelayan umat. Aku diangkat menjadi Khalifah bukanlah atas keinginanku bahkan atas kesepakatan para sahabat yang lain."
Saiyidina Usman berkata lagi "Tidakkah tuan tahu bahawa jabatan bukanlah satu kehormatan tetapi merupakan satu amanah." sambung Khalifah lagi "Apakah tuan sudah sanggup memikul amanah itu sedangkan tuan baru sahaja memeluk Islam dan lebih daripada itu tidak layak sesuatu kedudukan diminta atau diminati, kerana Allah jualah yang memberi atau mencabut kedudukan seseorang."
Abdullah bin Saba' keluar dengan perasaan gelap. Ia telah bersusah memeluk Islam dan kemudian menempuh perjalanan yang jauh dengan harapan untuk memperolehi sanjungan dan mendapat jawatan tinggi, tetapi ternyata hanya memperolehi nasihat dan teguran. Semenjak dari itu Abdullah bin Saba' menyimpan dendam kepada Khalifah, umat Islam dan agama Islam. Ia bertekad untuk membinasakan umat Islam dan mengacaukan ajarannya.
Maka Abdullah bin Saba' berkeliling kemana-mana dan berbisik-bisik sambil menabur fitnah kepada orang ramai dengan berkata bahawa pewaris dan Khalifah yang sah adalah Saiyidina Ali bin Abi Thalib. Sebahagian daripada mesyarakat telah terpengaruh dengan hasutan tersebut sehingga mereka menubuhkan kumpulan yang dipanggil Syiah Saba'iyah yakni kaum Syiah sekarang.
Bagitu busuknya fitnah yang disebarkan oleh Abdullah bin Saba' sehingga ia berani berkata "Sesungguhnya yang menjadi Nabi pilihan Allah adalah Ali bin Abi Thalib. Hanya kebetulan pada ketika itu malaikat Jibrail sedang mengantuk sehingga wahyu Allah diberikan kepada Muhammad yaitu orang yang tidak berhak."
Mendengar khabar beracun seperti itu Saiyidina Ali bin Abi Thalib sangat marah dan tatkala beliau diangkat menjadi Khalifah keempat menggantikan Khalifah Saiyidina Usman bin Affan atas perintahnya Abdullah bin Saba' diusir dari Madinah.
Itulah akibat dari sifat dengki dendam yang membara sehingga membutakan mata hati , untuk melakukan apa saja yang dapat merusak nilai dari kebaikan itu sendiri. Maka benci dan dendam adalah racun vaksinasi yang harus dijahui sejauh- jauhnya. Karena tak pantas bagi kita berlaku sombong dimuka bumi ini.
5
KEIKHLASAN
Suatu hari seorang bayi siap untuk dilahirkan ke dunia. Dia bertanya kepada Tuhan : "Para malaikat disini mengatakan bahawa besok engkau akan mengirimku ke dunia, tetapi bagaimana cara saya hidup disana, saya begitu kecil dan lemah"?
Dan Tuhan menjawab, "Saya telah memilih satu malaikat untukmu. Ia akan menjaga dan mengasihimu."
"Tapi disini, di dalam syurga, apa yang pernah saya lakukan hanyalah bernyanyi dan tertawa. Ini sudah cukup bagi saya untuk berbahagia."
"Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari. Dan kamu akan merasakan kehangatan cintanya dan menjadi lebih berbahagia."
"Dan bagaimana saya boleh mengerti saat orang-orang bercakap kepadaku jika saya tidak mengerti bahasa mereka ?" "Malaikatmu akan bercakap kepadamu dengan bahasa yang paling indah yang pernah kamu dengar; dan dengan penuh kesabaran dan perhatian, dia akan mengajarkan bagaimana cara kamu bercakap."
"Dan apa yang akan saya lakukan saat saya ingin berbicara kepadaMu ?"
"Malaikatmu akan mengajarkan bagaimana cara kamu berdoa."
"Saya mendengar bahawa di Bumi banyak orang jahat. Siapa yang akan melindungi saya ?"
"Malaikatmu akan melindungimu, walaupun hal tersebut mungkin dapat mengancam jiwanya."
"Tapi, saya pasti akan merasa sedih kerana tidak melihatMu lagi."
"Malaikatmu akan menceritakan padamu tentang Aku, dan akan mengajarkan bagaimana agar kamu boleh kembali kepadaKu, walaupun sesungguhnya Aku akan selalu berada di sisimu."
Saat itu Syurga begitu tenangnya sehingga suara dari Bumi dapat terdengar, dan sang anak bertanya perlahan, "Tuhan, jika saya harus pergi sekarang, bolehkah Kamu memberitahuku nama malaikat tersebut ?
"Kamu akan memanggil malaikatmu, Ibu."
Ingatlah selalu kasih sayang ibu, berdoalah untuknya dan cintailah dia sepanjang masa.
Ketika saya menuliskan cerita ini saya sempat menjatuhkan air mata, ternyata begitu ikhlas pengorbanan seorang ibu kepada kita , merawat kita mulai dari kecil sampai dewasa, mulai dari tidak tahu menjadi tahu, keikhlasan seorang ibulah yang telah membawa kita sampai kedunia ini. Maka sudah sepantasnyalah kita membalas kebaikannya dengan keihlasan pula.
Berbicara tentang ikhlas tidaklah semudah apa yang kita ucapkan, sering kali kita berbicara, aku telah ikhlas melakukannya, atau aku telah ikhlas dengan semua cobaan ini. Tapi benarkah demikan? Benarkah ini bersumber dari hati yang dirasakan?. saya sempat bertanya kepada senior saya, tentang perbedaan ikhlas, sabar, dan pasrah. Ia menjawab kalau ihklas adalah sebuah kerelaan hati yang didasari keimanan yang kuat, sedangkan sabar adalah bagian dari proses untuk peng ikhlasan itu sendiri, dan pasrah adalah sesuatu yang bermakna negatif yang kalau diterjemahkan adalah ungkapan menyerah dengan situasi yang ada. Jadi sebenarnya kalau kita aplikasikan dalam dunia nyata ketiga hal tersebut sulit untuk dibedakan, yang mana keikhlasan, yang mana, kesabaran, dan yang mana pasrah.
Bibir kita sering kali mengucapakan “ sudahlah ikhlaskan saja” benarkah demikian ? bukankah itu ungkapan untuk menghibur diri kita sendiri? Atau sebuah ungkapan karena kita tidak sanggup lagi menghadapi suatu masalah. Mungkin jawabanya bisa iya, bisa tidak tergantung seberapa besar kepasrahan kita terhadap situasi tersebut. Tapi perlu kita pahami bersama bahwa sekecil apapun perbedaan tersebut kita harus dapat memilah, kapan kita harus berlaku ikhlas, kapan berlaku sabar, dan kapan pula kita harus pasrah. Jangan jadikan keikhlasan dan kesabaran sebagai bentuk kepasrahan diri karena tidak bisa menghadapi masalah lagi.
Ikhlas adalah keadaan dimana manusia zero (kosong), dan itu sulit sekali diketahui oleh orang lain, mungkin hanya Allah sajalah yang tau, sebagai contoh ” Dahulu ada seorang pelacur berjalan dipadang pasir, ia melihat ada seekor anjing kehausan, lalu diambillah air memakai sepatunya tersebut dan memberikannya kepada anjing tersebut. Singkat cerita wanita tersebut tercatat sebagai penghuni surga karena telah memberikan air minum kepada anjing tersebut. Kenapa bisa demikan? Karena ikhlaslah yang meyertai perbuatannya sehingga seberapa besarpun dosa nya kalau dirinya telah ikhlas, maka insya Allah akan terampuni oleh Nya, sepeti contoh sederhana:
Ikhlas adalah keadaan dimana manusia zero(kosong) jadi dalam matematikanya: jika 0 x 100000000000 = 0, artinya seberapa banyak apapun dosa manusia jika dikalikan dengan keikhlasan tadi maka hasilnya akan terhapuslah semua dosa- dosanya. Dengan catatan pertaubatan dan ketahuidan masih ada dalam hati dan percaya bahwa Allah maha pengampun lagi maha penyayang.
Ikhlas bukan berarti pasrah atau menerima sesuatu dengan apa adanya, tapi ikhlas adalah sebuah perbuatan yang dilakukan dari hati yang paling dalam tanpa mengharapkan imbalan apapun dan hanya mengharap ridho dari Allah swt.
Berbuat sesuatu yang ikhlas memang tidak mudah, tapi apapun alasannya kita harus belajar agar setiap perbuatan baik kita hendaklah kita lakukan dengan didasari keikhlasan dengan demikian insya Allah akan tampaklah cahaya iman seseorang. Adapun hal yang perlu diperhatikan untuk belajar bagaimana keikhlasan itu akan menyatu dalam hidup adalah seperti berikut:
v Sadarkan lah diri Anda bahwa Sesuatu yang kita miliki adalah hanya titipan semata yang dipercayakan Allah kepada Anda.
v Ingatlah bahwa dengan keikhlasan yang tinggi derajat manusia akan semakin tinggi.
v Ikhlas adalah obat dari segala macam penyakit
v Berbuatlah baiklah sesering mungkin dengan paksaan dari dalam diri insya Allah lama- kelamaan itu akan terbiasa dan menjadi keikhlasan dalam setiap perbuatan baik yang kita lakukan karena keikhlasan itu akan terlahir dari sebuah kebiasaan yang terus menerus dilakukan.
v IKHLAS : adalah gamabran dari sebuah
- Ikhtiar
- Ketulusan
- Hati
- Landasan
- Amal
- Sabar
jadi Ikhlas adalah sebuah Ikhtiar yang didasari oleh ketulusan hati yang berlandaskan dengan amalan-amalan yang sabar.
6
ILMU, IMAN DAN AMAL
Pada bagian ini saya akan mengawalinya dengan sebaris firman Allah Swt Yang Artinya “ Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang- orang yang berilmu beberapa derajat ( Almujadilah 11 ) ”
Ada dua aspek yang dapat kita ambil dari ayat diatas yang pertama adalah Beriman dan yang ke dua adalah Berilmu. Ilmu tanpa iman akan mati sedangkan iman tanpa ilmu akan buta, selanjutnya tidak akan beramal.
Sewaktu saya masih kecil saya sempat berfikir Siapa Allah itu, dimana Ia , seperti apa wujudnya kenapa harus menyembahnya, kenapa harus solat, kenapa harus puasa, zakat, haji, dan lain sebagainya. Pada waktu itu saya hanya diajarkan oleh orang tua saya untuk mengaji, solat, puasa dan belum tau apa itu iman, sehingga kapasitas dalam mengenal Allah hanya sebatas keihklasan yang tidak didasari oleh ilmu pengetahuan.
Kemudian Seiring berjalannya Waktu saya mulai mencoba mencari dan memahami apa yang menjadi dilema dalam hati saya pada waktu itu , sampai pada saat selesai kuliah barulah jawaban jawaban dari pertanyaan itu mulai saya pahami satu persatu. yang dulunya saya percaya dan mengenal Allah hanya sebatas ikut-ikutan orang tua saja namun sekarang saya sudah lebih tau dari apa yang selama ini tersembunyi. karena ilmulah yang mengantarkan saya pada yang pemahaman itu, tanpa ilmu mungkin sampai sekarang saya masih buta akan Allah SWT, pantaslah Nabi mengatakan ” tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat,” untuk apa? ya untuk memahami Allah dan isi Alam semesta ini yang diciptakan oleh Allah SWT, dengan pahamnya kita insaya Allah kadar keimanan kita akan bertambah dan akan semakin dekat dengan Sang Khalik sehingga dengan demikian Amal perbuatan yang kita lakukan akan dilakukan dengan keihklasan yang didasari oleh ilmu dan iman.
Iman akan semakin bertambah karena ilmu yang kita pahami, ilmu juga akan menjadi bertambah ketika kita dapat mengamalkannya, mengajarkannya kepada sesama, karena dengan ilmulah hidup menjadi indah dan mudah, dengan iman yang benar hidup menjadi lebih terarah, dan dengan amallah hidup akan menjadi berkah.
Ketiga hal ini tidak dapat dipisahkan antara Ilmu, Iman dan Amal. Ilmu akan senanntiasa bermanfaat dan terarah ketika didasari oleh iman yang tinggi, banyak orang memmpunyai ilmu yang banyak tapi iman yang tidak kondusif dapat mengantarkan pemiliknya kepada kebebasan dalam hal bertindak yang akan membawa kerusakan- kerusakan dimuka bumi ini, seperti kita lihat dinegri Barat orang selalu mengedepankan ilmu pengetahuan tapai tidak didasari akan ilmu keimanan sehingga yang terjadi adlah kerusakan dan kesemenamenaan terhadap lingkungan dan kepada sesama. oleh karena itu sangatlah penting mengedepankan nilai- nilai spritualitas keimanan yang senantiasa akan menjaga kedamaian dan perbaikan nilai- nilai kehidupan.
Anda adalah manusia yang diciptakan untuk menjadi Khalifah dimuka bumi ini, maka sudah sepantasnyalah Anda harus berilmu, beriman dan beramal dengan nikmat- nikmat yang telah di anugrahkan oleh sang Pencipta . Tidak ada batasan bagi kita untuk selalu belajar, dengan banyak belajar niscaya rasa kekaguman terhadap apa yang kita temukan akan memmbawa kita kearah perbaikan diri dan akan menambah keimanan dan menjadi bermanfaatlah kita bagi alam semesta. karena sebaik- baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi sesamanya.
Sebuah cerita unik dan berkesan ” Ada seorang pemuda yang lama sekolah di negeri Sam kembali ke tanah air. Sesampainya di rumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencari seorang Guru agama, siapapun yang boleh menjawab 3 pertanyaannya. Akhirnya Orang tua pemuda itu mendapatkan orang tersebut.
“Anda siapa? Dan apakah boleh anda menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?” Pemuda bertanya. “Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan saudara.” Jawab Guru Agama. “Anda yakin? sedang Profesor dan banyak orang pintar saja tidak mampu menjawab pertanyaan saya.” Jawab Guru Agama “Saya akan mencuba sejauh kemampuan saya”
Pemuda : “Saya punya 3 pertanyaan;
1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukan kewujudan Tuhan kepada saya
2. Apakah yang dimaksudkan dengan takdir?
3. Kalau syaitan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api?, tentu tidak menyakitkan buat syaitan, sebab mereka memiliki unsur yang sama.
Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?”
Tiba-tiba Guru Agama tersebut menampar pipi si Pemuda dengan kuat. Sambil menahan kesakitan pemuda berkata “Kenapa anda marah kepada saya?” Jawab Guru Agama “Saya tidak marah… Tamparan itu adalah jawapan saya kepada 3 pertanyaan yang anda ajukan kepada saya”.
“Saya sungguh-sungguh tidak faham”, kata pemuda itu. Guru Agama bertanya “Bagaimana rasanya tamparan saya?”. “Tentu saja saya merasakan sakit”, jawab beliau. Guru Agama bertanya ” Jadi anda percaya bahawa sakit itu ada?”. Pemuda itu mengangguk tanda percaya. Guru Agama bertanya lagi, “Tunjukan pada saya wujud sakit itu!” “ Tak boleh”, jawap pemuda. “Itulah jawapan pertanyaan pertama: kita semua merasakan kewujudan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.” Terang Guru Agama.
Guru Agama bertanya lagi, “Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?”. “Tidak” jawab pemuda. “Apakah pernah terfikir oleh anda akan menerima sebuah tamparan dari saya hari ini?” “Tidak” jawab pemuda. “Itulah yang dinamakan Takdir” Terang Guru Agama.
Guru Agama bertanya lagi, “Diperbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?”. “kulit”. Jawab pemuda. “Pipi anda diperbuat dari apa?” “ Kulit “ Jawab pemuda. “Bagaimana rasanya tamparan saya?”. “Sakit.” Jawab pemuda. “Walaupun Syaitan terbuat dari api dan Neraka terbuat dari api, jika Tuhan berkehendak maka Neraka akan menjadi tempat menyakitkan untuk syaitan.” Terang Guru Agama.”
Demikianlah cerita itu sebagai penutup pada bagian ini semoga mdapat menggugah hati Anda dalam perbaikan ilmu, iman dan amal.
7
HATI
Bagian ini adalah merupakan bagianakhir dari buku ini, sengaja saya paparkan di akhir buku ini, karena supaya terkesan lebih menyentuh di hati para pembaca.
Hati adalah raja, bersih dari lahirnya itulah fitrah yang kuasa bagi setiap manusia, itulah adalah sebuah sair lagu yang sangat menyentuh karena sumber baik dan buruk manusia adalah bersumber dari hati manusia itu sendiri , jika baik di hatinya baik pula amalannya, jika buruk di hatinya buruk pula amalannnya .
Harapan yang besar bersumber dari HATI. Dari ke enam bab diatas ternyata semua bersumber dari hati kita yang apabila kita dapat mengoptimalisasikannya dengan benar, saya yakin semua itu tidak akan sulit untuk kita raih , kita laksanakan, dan kita amalkan adalah sangat berkesan jika kita tahu apa yang menjadi tujuan hidup kita sesungguhnya . karena pengalaman hidup telah banyak mengajarkan kita kepada hal- hal yang sangat mendesak, membingungkan , membahagiakan, sehingga pada akhirnya kita mulai mencari arti dari hidup ini.
Siapapun yang menjadikan dirinya penting, jati dirinya akan terbongkar dan mulai bersosialisai kepada sekitar lingkungan yang insya Allah akan mengantarkan jiwa kita kepada pencerahan yang hakiki . Hidup hanya sekali dan hidup adalah untuk dinikmati jangan biarkan diri larut dalam kegemerlapan yang tidak berguna. Totalitaskan diri dalam menjalankan sesuatu, ambillah hikmah dibalik setiap kejadian yang kita alami. Setiap kejadian yang kita alami pasti ada pelajaran yang bisa kita ambil untuk kita jadikan intropeksi diri dalam perbaikan menjadi manusia yang paripurna.
Hatimu adalah milikmu engkaulah yang mengendalikannya, engkaulah yang menjalankan baik dan buruknya. Allah adalah pengendali hati setiap manusia, siapapun yang dikehendakiNya akan mendapat Rahmat dan karunianya. seperti pada cerita tersebut.
Diceritakan oleh sebahagian orang salih:
Pekerjaanku adalah sebagai penolak rakit di sungai, yakni aku memindahkan penumpang dari satu tebing sungai ke tebingnya yang lain. Hal itu sudah ku lakukan sejak bertahun-tahun lamanya. Pada suatu hari, datanglah seorang lelaki tua yang sangat bersinar-sinar wajahnya, ia mendekatiku lalu memberi salam. Aku pun membalas salamnya dengan baik.
"Tuan!" berkata orang tua itu kepadaku. "Bolehkah tuan menyeberangkanku ke tebing sebelah sana secara ikhlas lillahi ta'ala?"
"Boleh," jawabku. "Aku boleh membawamu ke sana dengan ikhlas, tanpa bayaran!" Lelaki tua itu pun menaiki rakitku dan aku pun menjalankan rakit itu menuju ke tebing yang sebelah. Saat tiba di tebing sana, orang itu berkata lagi:
"Tuan, aku akan memberikan sesuatu kepada tuan, bolehkah tuan menjaganya?"
"Apakah itu?" tanyaku kepadanya. "Hanya suatu bungkusan dan sebilah tongkat. Apabila datang hari besok hampir waktu Zohor, tuan akan menemukan diriku mati di bawah pohon itu," dia berkata begitu sambil menunjukkan pohon yang dimaksudkan. Kemudian dia menyambung pesanannya lagi:
"Maka mandikan dan bungkuslah aku dengan kain yang ada di bawah kepalaku, kemudian sholatkanlah aku dan kebumikan aku di bawah pohon itu. Setelah itu ambillah bungkusan ini serta tongkatnya lalu simpanlah dia baik-baik. Sewaktu-waktu kalau ada orang yang memintanya berikanlah kepadanya!" pesannya dengan sungguh-sungguh.
"Itu saja pesananmu?!" tanyaku lagi, Dia mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baiklah," kataku dengan penuh kchairanan. Malam itu aku tak dapat tidur kerana terus memikirkan keadaan orang itu. Betulkah dia akan mati, seperti yang dia katakan? Kalau tidak, buat apa aku memikul bebanan amanat ini! Apabila menjelang pagi, aku segera pergi ke tempat rakitku untuk bekerja, sambil menunggu waktu yang ditetapkannya itu.
Apablia menjelang waktu Zohor, aku pun duduk termangu-mangu dan hatiku berdebar-debar. Tiba-tiba aku terlena dan terus tertidur, dan baru bangun ketika waktu menjelang Asar. Aku teringat akan janjiku kepada lelaki tua itu, dan aku cepat-cepat menuju ke bawah pohon yang ditunjukkan kepadaku semalam. Ternyata benar lelaki itu telah meninggal dunia di sana, dan wajahnya semakin bersinar-sinar.
"Inna Lillaahi Wa Innaa llaihi Raji'uun!" lisanku mengucap. Aku pun segera menyelenggarakan mayatnya, memandikannya lalu membungkusnya dengan kain yang diletakkan di bawah kepalanya yang baunya sangat harum sekali. Kemudian mensholatinya dan menggali kubur di bawah pohon. Ternyata di sana telah terdapat kuburan yang dibuat dari batu yang sangat halus sekali buatannya. Aku masukkan jasad itu ke dalamnya, lalu menimbuni kubur itu dengan tanah, dan aku ambil bungkusan serta tongkat titipannya dan menyimpannya di rumah.
Hari itu, aku terpaksa bekerja sampai pagi untuk menggantikan masa aku gunakan untuk menyelenggarakan pengebumian mayat lelaki tua tadi. Apabila menjelang fajar, datanglah seorang pemuda kepadaku seraya memandangku dengan pandangan yang tajam sekali. Setelah aku mengamat-amatinya, aku mengenalinya. la adalah seorang pemuda yang biasa bermain sandiwara, dan biasa menyanyi dan menari. la memakai baju yang tipis, sementara jari-jarinya penuh dengan pacar. Pemuda itu mendekatiku seraya memberi salam. Aku membalas salamnya. la bertanya:
"Benarkah tuan ini fulan bin fulan?" aku hairan bagaimana dia tahu namaku.
"Betul", jawabku. "Jika demikian, di manakah amanat itu?"
"Amanat apa?" tanyaku kembali.
"Sebuah bungkusan dan sebilah tongkat," pemuda itu memberitahuku.
"Siapakah yang memberitahukan hal itu kepadamu?"
"Aku sendiri tak mengerti," jawabnya, "tapi tadi malam aku sedang di rumah teman untuk meraikan pesta perkahwinan. Aku menari-nari serta menyanyi sampai jauh malam dan aku pun tidur di sana. Tiba-tiba datang seorang yang tak ku kenal membangunkanku seraya berkata:
"Wahai pemuda, bangunlah! Ketahuilah bahawa Allah s.w.t. telah mematikan seorang walinya, dan menjadikan dirimu sebagai gantinya. Nah pergilah sekarang juga dan temui fulan bin fulan yang bekerja sebagai penolak rakit, dan ketahuilah bahawa sesungguhnya wali Allah yang mati itu meninggalkan amanah untukmu, iaitu berupa sebuah bungkusan dan sebilah tongkat."
Aku benar-benar kehairanan mendengar penuturan pemuda itu, dan aku pun menyerahkan kedua amanah itu kepadanya. la menerimanya lalu menanggalkan pakaiannya yang di atas badan, kemudian mandi dan berwudhuk, lalu membuka bungkusan itu yang ternyata di dalamnya ada sepasang pakaian, lalu memakainya, dan memegang tongkat. Kemudian dia datang kepadaku seraya berkata:
"Terima kasih kerana kau sanggup menjaga amanat ini, semoga Tuhan saja yang membalasmu!"
Kemudian pemuda itu pergi meninggalkanku. Ke mana dia pergi, aku pun tidak tahu. Di sepanjang-panjang hari itu, aku terus memikirkan tentang pemuda itu, dan bagaimana dia dengan kehidupannya yang lalai dan sia-sia boleh menerima amanat wali yang mati itu. Bila aku merasa penat, aku pun tidur. Dalam tidurku itu aku mendengar suatu suara yang mengatakan:
"Wahai hamba Allah! Apakah engkau keberatan jika Allah berkenan melimpahkan kurnianya kepada hambanya yang selalu membuat derhaka kepadaNya? Ketahuilah, bahawa Allah berhak sepenuhnya untuk memberikan kelebihannya kepada sesiapa pun, takdirnya adalah menurut iradatnya!"
Pada masa itulah, aku terkejut dari tidurku, lalu bangun menangis sejadi-jadinya. Dalam menangis itu aku bermohon: "Ya Allah! Berilah hambamu ini rahmat dan belas-kasihmu! Berilah pertolongan untuk berbakti kepadamu, bersyukur atas segala nikmatmu, dan bersabar atas segala cubaanmu! Amin".
Cerita diatas mengajarkan kepada kita tuk tidak menganggap remeh iman seseorang walaupun bejat dihadapan banyak manusia , tapi ingatlah bahwa Allah maha pembuka rahmat kepada siapa saja yang dikehendakinya. dengan demikian marilah kita tuk selalu berdoa” Wahai Allah zat yang membolakbalikan hati manusia Tetapkanlah hatiku tuk selalu berada dijalanMu yang lurus, dan bimbinglah hamba menuju RidhoMu.
Sebagai akhir dari buku ini saya berpesan kepada kita semua bahwa :
v ketika kita sudah beriman hendaknyalah diikuti dengan rasa keyakinan yang kuat karena sumber kekuatan adalah ketika kita dapat mengoptimalkan rasa iman kita yang didasri keyakian yang bersumber dari iman yang benar.
v Kebenaran pasti akan menang walupun harus bermandikan darah sekalipun. tetaplah pada kebenaran wlaupaun itu menyiksa batinmu. Ingatlah Allah tidak buta, Allah tidak tidak tidur Dia selalu mengawasi setiap yang terjadi pada hambanya, jangankan sehelai daun yang jatuh dari pohon , sebutir atompun yang bergerak itu tidak luput dari pengamatan Allah. tetaplah sabar dalam melakukan kebaikan dan menjalankan kebenaran. Karena semua itu akan indah pada waktunya.
v Haqqul yakin adalah kunci keberhasilan, jangan ragu tinggalkanlah keraguan yang ada dalam diri, semua terjadi berkat kekuatan keyakinan.
v Kebencian tidak akan mendatangkan kebaikan, kebencian justru akan merusak sel- sel otak manusia itu sendiri yang dapat menjadi racun vakisnasi negatif yang akan membuat bibit penyakit baru.
v Ikhlaslah dalam beramal, Karena keikhlasan akan membawa keberkahan, dan serahkanlah semua pada yanga maha sempurna. Allah swt tidak melihat seberapa besar nilai yang kamu berikan tapi seberapa besar kamu dalam melakukannya.
v Dan untuk sampai kepada itu semua , hendaknya kita tuk selalu belajar; belajar dan belajar karena batasan untuk menunutut ilmu tidak ada batasnya tuntututlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat. dengan demikian iman akan bertambah, dan beramalpun semakin lebih terarah yang insya Allah akan membawa berkah
v HATI Hidup harus ber Amal, Tetapalah pada Islam. Karena islam akan membawa hati anda menyelam lebih dalam tentang Anda dan Pencipta Anda. Dunia pasti berakhir tuntunlah hati Anda kearah Sirotol Mustaqim.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar